Cari Blog Ini

Memuat...

Sabtu, 28 Januari 2012

Pembibitan Tanaman Kelapa Sawit


Pembibitan Tanaman Kelapa Sawit
            Benih tanaman kelapa sawit untuk calon bibit harus dihasikan dan di kecambahkan oleh lembaga resmi yang ditunjuk pemerintah. Proses pengecamban umumnya dilakukan sebagai berikut.

1.   Tangkai tandan buah dilepaskan dari spikeletnya.
2.   Tandan buah diperam selama 3 hari dan sekali – sekali disiram air. Pisahkan buah dari tandannya dan peram lagi selama 3 hari.
3.   Masukan buah ke mesin pengaduk untuk memisahkan daging buah dari biji. Cuci biji dengan air, lalu rendam dalam air selama 6 -7 hari. Ganti air rendaman setiap hari. Selanjutnya rendam biji tadi dalam Dithane M-45 konsentrasi 0,2% selama 2 menit, lalu keringkan.
4.   Masukan biji kelapa sawit tersebut ke dalam kaleng pengecambah dan simpan di dalam ruangan bertemperatur 39°C dengan kelembapan 60 – 70% selama 60 hari. Setiap 7 hari, benih dikeringkan selama 3 menit.
5.   Setelah 60 hari, rendam benih dalam air sampai kadar air 20-30% dan keringanginkan lagi. Masukan benih ke dalam larutan Dithane M-45 0,2 % selama 1 – 2 menit. Simpan benih diruangan bertemperatur 27°C. setelah 10 hari, benih berkecambah. Biji yang berkecambah pada hari ke-30 tidak di gunakan lagi.
Dalam proses pembibitan biasanya  dianut sistem pembibitan dua tahap, yaitu pre nursery dan main nursery.

1.9.1.1  Pre nursery ( pembibitan awal )
Pembibitan awal ( pre nursery ) merupakan tempat kecambah tanamanan kelapan sawit ( Germinated seeds ) ditanam dan dipelihara hingga berumur 3 bulan. Selanjutnya, bibit tersebut akan di pidahkan kepembibitan utama ( main nursery ). Pembibitan pre nursery dilakukan sealam 2 – 3 bulan, sedangkan pembibitan main nursery selama 10 -12 bulan. Bibit akan siap tanam pada umur 12 bulan ( 3 bulan di pre nursery dan 9-11 bulan di main nursery ). Beberapa pertimbangan yang harus terintegrasikan dalam rencanapembibitan, di antaranya biaya pembibitan pre nursery dan main nursery,transportasi menuju lokasi, kemudahan komunikasi, dan pembuatan jalan control.
1.      Persyaratan lokasi
Lokasi untuk pembibitan pre nursery sebaiknya datar atau kemiringan tanah maksimum 3°, sehingga pembuatan bedengan pre nursery nantinya akan rata. Bagian atas bedengan sebaiknya memiliki naungan, berupa atap buatan atau pohon. Pagar pre nursery untuk mencegah hewan pengganggu masuk dan       merusak pembibitan.
Lokasi sebainya dekat dengan sumber air. Kondisi debit air harus tetap dan tidak mengandung kapur ( pH netral ). Lokasi harus dekat sumber media dengan topsoil yang cukup untuk mengisi babybag ( polibag kecil ), tanah tidak bercadas atau tidak berkapur, dan akses jalan yang mudah dijangkau.
2.      Pemesanan kecambah
Seleksi dilakukan dengan memilih penggunaan kecambah yang baik dan dapat mencukupi kebutuhan. Satu hektar lahan tanaman dengan populasi 143 pohon membutuhkan kecambah 220 biji degan asumsi kecambah yang mati dan abnormal sekitar 25% dan untuk kebutuhan penyulaman sekitar 10%. Waktu pemesanan kecambah diatur agar kecambah sudah tertanam di babybag ( polibag kecil ) pre nursery 13 – 14 bulan sebelum penanaman di lapangan. Kedatangan kecambah dapat diatur seminggu sekali. Pengiriman kecambah dapat menggunakan angkutan udara untuk tempat yang jauh.
3.      Penyiapan babybag ( polibag kecil )
Polibag kecil yang digunakan sebaiknya berwarna hitam, jika terpaksa menggunakan polibag kecil berwarna putih.polibag berukuran panjang 14 cm, lebar 8 cm, dan 0,14 cm. selain itu, bisa juga menggunakan babybag hitam dengan ukuran  14 x 22 x 0,07 cm ( 200 lembar/kg ). Media tanam yang digunakan berupa campuran topsoil dan kompos dengan perbandingan 6 : 1 atau campuran pasir, pupuk kandang,  dan topsoil dengan komposisi 1:1:3.
Bedengan pembibitan pre nursery dibuat dengan panjang 10 meter dan lebar 1,2 meter. Tinggi bedengan berkisar 0,1 -0,15 meter dengan jarak antara bedengan 0,8 meter.  Satu petak pre nursery  tangki siram 1.000 liter dapat mencukupi penyiraman 700 – 800 baabybag kecambah kelapa sawit.
4.      Penanaman kecambah
Letakan kecambah di tempat yang sudah, kemudian segara tanam ke dalam bebybag. Kecambah hanya dapat bertahan  3 – 5 hari di tempat penghasil kecambah. Dua hari menjelang penanaman kecambah, media tanam yang berada didalam bebybag harus disiram setiap pagi. Gemburkan permukaan media dengan jari telunjuk atau ibu jari, kemudian buat lubang untuk meletakan kecambah.
Masukan kecambah sedalam 1,5 – 2 cm di bawah permukaan tanah. Lalu ratakan kembali hingga menutup kecambah tersebut. Bagian bakal akar ( radikula ) berbentuk agak tumpul dan berwarna lebih kuning harus mengarah kebawah  dan bakal daun ( plumula ) yang bentuknya agak tajam dan berwarna kekuning muda mengarah ke atas.
5.      Naungan
Naungan ( pelindung ) bisa berupa pohon hidup atau naungan buatan yang terbuat dari daun kelapa sawit. Ukuran tinggi tiang 2 meter ( depan belakang sama ) dan jarak antar tiang 3 meter. Naungan di pertahankan hingga kecambah berdaun 2 – 3 helai. Setelaah itu, naungan berangsur – angsur di kurangi dari arah timur agar sinar mata hari pagi bisa lebih banyak masuk kebedengan.
Pengurangan naungan dilakukan secara bertahap dan jangan sampai terlambat. Karena dapat menghambat pertumbuhan tanaman. Sebaaliknya,  jika pengurangan naungan terlalu cepat, menyebabkan tanaman stres. Pengurangan naungan dilakukan setelah bibit berumur 6 minggu, setiap 2 minggu naungan di kurangi satu caging daun. Contohnya, jika terdapat 4 pelepah daun setiap meter, minggu ke-6 tersisa 3 pelepah daun, minggu ke-8 sisa 2 pelepah daun, minggu ke-10 sisa 1 pelepah daun, dan pada minggu ke-12 naungan di habiskan.
6.      Penyiraman dan penyiangan
Penyiraman dilakukan setaip hari secara teratur, yakni pada pagi hari saat pukul 06.00 – 10.30 dan sore hari dimulai pukul 15.00. volume air yang disiramkan sekitar 0,25 – 0,5 liter per bibit.
Penyiangan dilakukan dengan mencabut rumput-rumput yang tumbuh di bebybag menggunakan tangan. Penyiangan sebaiknya dilaksankan  2 minggu sekali. Rumput di kumpulkan di antara bedengan agar kering terkena sinar mat hari.
2.      Pemupukan
Selama 3 bulan di pre nursery biasanya bibit tidak di pupuk. Namun, jika tampak gejala kekurangan hara dengan gejala seperti daun menguning. bibit perlu di pupuk menggunakan pupuk N dalam bentuk cair. Konsentrasi pupuk urea atau pupuk majemuk sekitar 0,2% atau 2 gram per liter air untuk 100 bibit. Pupuk di aplikasikan melalui daun dengan cara disemprot pada bibit berumur lebih dari 1 bulan atau telah memiliki 3 helai daun. Frekuensi pemupukan dilakukan seminggu sekali.
3.      Proteksi dan seleksi
            Serangan hama dan penyakit selama di pre nursery biasanya belum ada. Jika ada dapat di berantas dengan diambil menggunakan tangan ( hand picking). Serangan penyakit yang berasal dari sejenis jamur dapat dikendalikan dengan fungisida yang banyak dijual di pasaran, seperti Dthane, Sevin, dan Anthio dengan dosis sesuai dengan yang di anjurkan.
Seleksi dilakukan sebulum bibit dipindahkan ke main nursery. Seleksi bibit di pre nursery bertujuan untuk mencari bibit yang menyimpang. Bibit menyimpang dapat di akbitkan oleh faktor genetis, kerusakan mekanis, serangan hama dan penyakit, serta ke salahan kultur teknis.
 Saat berumur 3 bulan, bibit kelapa sawit yang normal biasanya berdaun 3 – 4 helai dan telah sempurna bentuknya. Pengurangan bibit sejaka kecambah ( GS ) di terima hingga di pindahkan ke main nursery dapat mencapai 12% atau lebih. Bibit yang mati harus lebih dahulu dikeluarkan, kemudian bibit yang tidak normal dimusnahkan. Ciri bibit kelapa sawit tidak normal sebagai berikut.
1.   Anak daunnya sempit dan memanjang seperti daun alang – alang ( narrow leaves ).
2.   Anak daunnya bergulung ke arah longitudional ( rolled leavis ).
3.   Pertumbuhan bibit memanjang ( erect ), berputar ( twisted shoot ), tumbuh kerdil, lemah, dan lambat  ( insuffsient growth, dwarfish ).
4.   daunnya kusut ( crinkled ), anak dau tidak mengembang, membulat, dan menguncup ( collante ).
5.   Rusak karena serangan penyakit tajuk ( crow disease ), curvularia, dan antracnosa.
 Pertumbuhan bibit yang tidak normal juga terjadi karena kesalahan kultur teknis. Bikut beberapa kesalahan teknis penanaman yang menyebabkan bibit tumbuh abnormal.
1.   Penanaman kecambah terbaik, bakal daun ditanam kearah bawah.
2.   Kecambah di tanam terlalu dalam sehingga pertumbuhan terlambat atau terlalu dangkal sehingga akar tergantung.
3.   Tanah terlalu padat sehingga mempersulit pertumbuhan akar.
4.   Tanah mengandung bebatuan ( tidak disaring ), sehingga mengganggu perkembangan akar.
5.   Tanah terlalu basah, karena air tidak dapat terbuang dari kantong plastik atau penyiraman tdak sempurna ( terlalu deras dan banyak atau terlalu sedikit).
4.      Pengangkutan
Pengangkutan atau pengiriman bibit dari pre nursery ke main nursery dilakukan dengan memasukan babybag kedalam peti kayu berukuran 66,5 x 42 x 27,5 cm. setiap peti kayu dapat memuat 35 bibit. Pengangkutan harus berhati-hati dan bibit harus segera ditanam setelah sampai di main nur sery.

1.9.1.2  Main nursery ( pembibitan utama )
1.      Penentuan lokasi
Lokasi sebaiknya dekat atau berada dipinggir jalan besar, agar pengangkutan bibit dan pengawasanya lebih mudah. Lokasi harus bebas genangan atau banjir dan dekat dengan sumber air untuk penyiraman. Debit dan mutu air yang tersedia harus baik. Areal pembibitan sebisa mungkin rata atau memiliki kemiringan maksimum 5%, tempat terbuka atau tanah lapang, dan lapisan topsoil cukup tebal ( 25 cm ). Letak lokasi main nursery dekat dengan area yang akan di tanam dan harus jauh dari sumber hama dan penyakit.

2.      Luas, lay out, dan pancang
Satu hektar pembibitan main nursery dapat menyediakan bibit untuk sekitar 50 – 60 hektar lahan penanaman. Setelah area diratakan menggunakan alat berat, sekaligus untuk mengambil topsoil, tentukan dan buat jaringan jalan, parit, dan saluran pembuangan air ( darinase ). Buat lay out petak atau bedengan memanjang dengan arah timur ke barat. Ukuran panjang dan lebarnya di sesuaikan dengan kondisi lapangan dan jaringan irigasinya.
3.      Jaringan irigasi
Jaringan irigasi diperlukan sebagi sarana pengairan untuk menyiram bibit di main nursery. Alat dan bahan untuk sistem penyiraman harus sudah terpasang dan siap pakai sebelum  penanaman. Instalasi penyiraman di main nursery sebagai berikut.
1.   Secara manual, air dihisap dari sungai menggunakan pompa air dan di alirkan ke lokasi pembibitan melalui pipa dan selang.
2.   Sprinkler  menggunakan pipa induk, pipa utama, dan pipa distribusi. Pipa induk berukuran 6 inchi. Pipa ini di pasang dari rumah pompa menuju ke pipa utama yang besarnya 4 inchi. Pipa utama di lengkapi valve yang menuju pipa distribusi yang diameternya 2 inchi.
3.   setiap sambungan di lengkapi stand pipes 0,75 inchi yang di pasang berdiri dan ujungnya dilengkapi dengan nozzle yang memencarkan air secara berputar.
4.   Setiap pipa distribusi memiliki 8 – 10 sprinkler yang berjarak 9 – 18 meter. Untuk 8 hektar pembibitan diperlukan 30 sprinkler dan dua jalur pipa distribusi.
5.   Kebutuhan air sekitar 75 m³/ha/hari, efisiensi 30 – 40% dengan pompa air berdaya pancar 45 psi ( 3,6 kg/cm² ). Kekuatan pompa 18 – 20 horse power
( HP ) untuk 8 hektar pembibitan.
4.      Penyiapan polibag
Polibag yang digunakan sebaiknya berwarna hitam ( 100% carbon black ) dengan panjang 42 cm,lebar 33 cm atau berdeameter 23 cm, dan tebal 0,15 cm. polibag diberi lubang berdeameter 0,5 cm sebannya dua baris. Jarak anatar lubang 7,5 x 7,5 cm.
Media tanam bibit menggunakan topsoil yang memiliki struktur remah atau gembur. Jika terpaksa, gunakan topsoil yang berupa tanah liat. Namun,  media tersebut perlu dicampur pasir kasar dengan perbandingan 3:2. Polibag diisi media tanam hingga penuh ( sekitar 16 kg ), lalu hentakan tiga kali agar media tanam memadat. Pengisia polibag harus selesai dikerjakan dalam waktu 2 minggu sebelum pemindahan dari pre nursery.
5.      Penanaman
Sehari sebelum penanaman, media tanam dalam polibag harus disiram. Bibit dipindahkan dari pre nursery setelah berdaun 2 – 3 helai dan berumur maksimum 3 bulan. Penanaman dilakukan dengan cara membuat lubang di polibag seukuran dengan diameter babybag. Sayat babybag dengan pisau secara hati-hati dari bawah ke atas agar mudah dilepas dan media tidak sampai terikut.
Masukan bibit serta tanahnya ( ball of earth ) ke dalam lubang, lalu atur agar posisinya tegak seperti semula. Tekan tanah di sekeliling lubang agar lebih padat merata.  Jika di rasa kurang, tambahkan tanah hingga sedikit melewat leher akar. Bagian atas polibag yang tidak diisi tanah setinggi 2-3 cm. bagian ini memungkinkan sebagai tempat meletakan pupuk, air, atau mulsa.naungan sudah tidak diperlukan lagi di main nursery.
6.      Penyiraman dan penyiangan
Pemupukan Penyiraman dilakukan setiap hari secara teratur dengan jumlah  yang cukup. Jika musim kemarau, siram bibit 2 kali sehari, yakni pada pagi dan sore hari. Kebutuhan air penyiraman sebanyak 2 liter air/bibit/hari. Permukaan tanah harus ditutupi dengan serasah organik ( mulsa ) untuk menghindari pemadatan permukaan tanah, mencegah penguapan air, dan mengatur kelembapan tanah pada musim kemarau.
Penyiangan dilakukan dengan mencabut gulma yang tumbuh dalam polibag, sekaligus menggemburkan tanah dengan cara menusukan sepotong kayu. Penyiangan lahan pembibitan ( di luar polibag ) dilaksanakan secara clean weeding, yakni menggunakan garuk. Rotasi penyiangan 20 – 30 hari, tergantung dari pertumbuhan gulma.
7.      Pemupukan
Dosis dan jadwal pemupukan sangat tergantung pada umur dan pertumbuhan bibit.  Di main nursery , lebih dianjurkan untuk menggunakan pupuk majemuk N-P-K-Mg dengan komposisi 15-15-6-4 atau 12-12-17-2, serta ditambah kieserite ( pupuk yang mengandung unsur Ca dan Mg ). Pupuk majemuk N-P-K Mg dan kieserite dapat di beli di took-toko pertanian.
                       
Umur ( minggu ke- )
Pupuk 
N-P-K-Mg (15-15-6-4)
Pupuk 
N-P-K-Mg
( 12-12-17-2 )
kieserite
14
02,5


15
02,5


16
05,0


17
05,5


18
07,5


20
07,5


22
10,0


24
10,0


26

10,0

28

10,0
05,0
30

10,0

32

10,0
05,0
34

15,0

36

15,0
07,5
38

15,0

40

15,0
07,5
42

20,0

44

20,0
10,0
46

20,0

48

20,0
10,0
50

25,0

52

25,0
10,0
Tabel 3. Rekomondasi pemupupukan bibit tanaman kelapa sawit di main nursery
( gram per bibit ).
Berikut ini kebutuhan pupuk untuk satu hektar main nursery dengan jumlah sekitar 11.000 bibit.
-Pupuk majemuk ( 15-15-6-4 )       : 50 gr x 11.000           = 550 kg/ha
-pupuk majemuk ( 12-12-17-2 )     : 230 gr x 11.000         = 2.530 kg/ha
-pupuk kieserite                              : 55 gr x 11.000           = 605 kg/ha
5.      Hama dan penyakit
1.   Hama ulat api ( Stora nitens ), berwarna hijau atau coklat, memiliki bulu halus yang tajam. Jika mengenai kulit manusia, menyebabkan rasa panas seperti terbakar api. Daun kelapa sawit adalah makanan kesenangan hama ulat api.
2.   Hama ulat kantong ( Mahasena Corbett),hama ini membentuk sarang yang menyerupai kantong dan menggantung di bawah daun.
3.   Hama ulat ungu ( Oliginycus sp. ), ulat ini mengisap cairan pada anak daun, sehingga daun menjadi kering.
4.   Hama belalang ( Valanga sp. ), biasanya memakan daun dan mengerek serat – serat daun.
5.   Hama ngengat ( Apogonia sp. ), menyerang bibit pada malam hari dan merusak seluruh permukaan daun.
6.   Hama kumbang ( Andoretus sp. ), menyebabkan pembusukan kuncup yang ditandai dengan kotoran yang di tinggalkan. Hama ini bisa menyerang pada malam hari.
7.   Hama lain seperti jangkrik yang memakan daun muda hingga kuncup, bekicot yang mengisap jaringan daun hingga yang tertinggal hanya serat-seratnya, serta tikus yang suka menggigit dasar batang dan merusak bakal kuncup.

Pengendlian hama dapat dilakukan secara manual, yaitu dengan mengambil satu per satu serangga, lalu membunuhnya. Pengendalian lain dapat dilakukan secara kimiawi, yaitu dengan menyemprotkan insektisida sevin 85 ES dan tendion yang telah dilarutkan dalam air sesuai dosis yang direkomondasi dikemasan.
Hama lain yang dapat merusak bibit di main nursery adalah babi hutan dan landak. Hama inni aktif menyerang pada malam hari secara berkelompok dengan memakan umbut atau titik tumbuh bibit. Pencegahan nya dengan mengecat pangkal batang bibit menggunakan bahan residu, misalnya oli bekas, atau limbah pabrik yang dicampur Zn posfit. Selain itu, bisa menggunakan umpan beracun, seperti pisang, telur, ikan busuk, dan daging babi yang telah tertangkap.
Penyakit yang terkadang muncul diantaranya crown disease dan blast disease. penyakit yang serius jarang di temukan saat masa pembibitan.crown disease adalah penyakit busuk tajuk. Gejalanya di tandai dengan daun muada yang baru muncul mengalami pembusukan. Penyakit ini belum bisa di atasi secar kimiawi. Usaha untuk menguraingi gejalanya dengan mengurangi pemberian pupuk yang mengandung nitrogen, karena tanaman yang kelebihan nitrogen akan rentan terhadap serangan virus.

Blast disease adalah penyakit busuk akar yang di sebabkan oleh serangan jamur phytium sp. Pembrantasannya sangat sulit. Tindakan yang dapat dilakukan hanya dengan mencabut dan membakar tanaman yang terserang, sehingga tidak menular ke tanaman yang sehat.

6.      Seleksi
seleksi di main nursery dilakukan dalam empat tahap sebagi berikut :
1.   setelah bibit di pindahkan dari pre nursery.
2.   Setelah bibit berumur empat bulan.
3.   Setelah bibit berumur delapan bulan.
4.   Saat di pindahkan kelapangan.
Ciri – ciri tidak normal dan harus disingkirkan sebagi berikut :
1.   bibit ayang memanjang kaku ( errectic  ), tinggi melebihi rata-rata, dan daunya kaku.
2.   Bibit yang permukaannya rata ( flat ) dan daun muda lebih pendek.
3.   Bibit yang merunduk ( limp ).
4.   Bibit yang daunya tidak membelah ( fused leaflet ).
5.   Anak daun pendek ( short leaflet ), sempit, dan selalu menggulung.
7.      Pengangkutan bibit
Pengakutan bibit harus dapat menjamin bibit tidak rusak dan tidak layu karena terkena panas atau angin kencang. Proses pengangkutan bibit dari lokasi pembibitan main nursery ke lokasi penanaman dapat berjalan efisien melalui pembagian tugas. Pekerjaan berikut ini seharusnya di bebankan kepada tenaga kerja yang terpisah.
1.   Memuat bibit ke dalam truk.
2.   Membongkar dan menurunkan bibit dari truk ke tempat yang telah di tentukan di lapangan.
3.   Mengangkut bibit ke ajir tanaman.

1 komentar: